Karanganyar, Jawa Tengah - Program Lokadesa Klaster Tani kembali menunjukkan hasil melalui kegiatan panen wortel yang dilaksanakan pada Sabtu, 13 Juni 2026, di Desa Berdaya Blumbang, Kecamatan Tawangmangu. Kegiatan ini menjadi bagian dari monitoring dan evaluasi terhadap petani penerima manfaat bantuan benih wortel dari Lokadesa Rumah Zakat.
Panen dilaksanakan di lahan milik Bapak Sri Hartono bersama para petani peserta program. Proses budidaya yang berlangsung selama kurang lebih 4,5 bulan menghasilkan wortel dengan kualitas baik dan harga jual sekitar Rp5.000 per kilogram.

Desa Berdaya Blumbang yang berada di ketinggian ±1.430 mdpl dikenal sebagai kawasan hortikultura yang potensial. Kondisi geografis tersebut mendukung pertumbuhan komoditas sayuran, termasuk wortel. Selain itu, petani setempat juga masih menerapkan praktik pembenihan mandiri dengan memilih benih dari tanaman unggulan, sehingga kualitas produksi tetap terjaga.
Dalam praktik budidaya, petani menerapkan sistem tumpang sari dengan menanam wortel bersamaan dengan daun bawang (onclang). Pola ini memungkinkan pemanfaatan lahan yang lebih efisien serta memberikan hasil panen yang lebih berkelanjutan. Saat daun bawang memasuki masa panen pada usia 50–60 hari, benih wortel mulai ditanam sebagai komoditas lanjutan.
Penerapan strategi ini menjadi penting di tengah keterbatasan lahan pertanian akibat perkembangan sektor pariwisata di kawasan Tawangmangu, seperti pembangunan glamping dan fasilitas pendukung lainnya.

Tri Hartanto, Relawan Inspirasi Desa Berdaya Blumbang, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong kemandirian petani melalui pendampingan dan dukungan yang tepat.
“Panen ini menunjukkan bahwa dengan dukungan yang sesuai, petani dapat meningkatkan produktivitas dan mengelola usaha pertanian secara lebih mandiri,” ujarnya.
Sementara itu, Bapak Sri Hartono menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan. Ia menilai dukungan benih tidak hanya membantu dari sisi produksi, tetapi juga meningkatkan motivasi petani dalam mengembangkan usaha pertanian.
Kegiatan ini menegaskan bahwa upaya pemberdayaan petani tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga pada penguatan kapasitas dan keberlanjutan praktik pertanian di tingkat desa. Melalui program yang berkelanjutan, diharapkan petani dapat semakin mandiri dan berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan.
